Perjalanan Menjemput Ajal Bag.43

Perjalanan Menjemput Ajal Bag.43

Harapan seorang mukmin.

Setiap manusia pasti memiliki harapan dan bahkan mimpian. Sebab berawal dari harapan dan impian inilah akhirnya setiap orang berusaha untuk mewujudkannya. 

Hanya saja ada satu perbedaan yang sangat mencolok antara orang-orang mukmin dengan manusia biasa lainnya, terutama dalam masalah harapan dan impian. Bahkan orientasinya pun juga berbeda. Hal itu bisa dilihat dari hal-hal yang sepele. Seperti; ketika ada beberapa orang yang masuk ke dalam sebuah rumah yang bagus lagi penuh dengan berbagai arsitek kesenian dan ornamennya. Maka setiap dari orang yang datang tadi akan memperhatikan rumah mewah tersebut dari berbagai sudut pandang mereka masing-masing. 

Yang tukang kayu akan melihat ke pintu dan jendela, tukang batu akan melihat ke dinding dan tukang hias interior melihat sprei dan pakaian. Tetapi berbeda dengan orang beriman. Dia akan melihat bahwa bangunan seindah belum ada apa-apanya dibandingkan dengan bangunan kelak di surga.

harapan seorang mukmin

Begitu juga halnya ketika tiba-tiba lampu (listrik) mati/padam, yang lain pada sibuk dan ribut karena semua fasilitas mati (terutama AC), orang beriman justru membayangkan bagaimana kelak di akhirat (kuburan). Di sana gelap gulita tanpa ada penerangan kecuali amal shalihlah yang kelak akan meneranginya. 

Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu mengatakan, “Wahai manusia! Kamu berada di jalan siang dan malam. Jatah hidupmu berkurang. Amalmu tersimpan dan kematianmu akan datang secara tiba-tiba. Setiap orang akan memanen apa yang dia tabur. Orang yang tamak tidak akan mendapatkan apa yang Allah Ta’ala tidak takdirkan kepadanya. Barangsiapa diberi kebaikan maka itu dari Allah Ta’ala; dan barangsiapa dilindungi dari setan, maka Allah Ta’ala-lah pelindungnya. Orang shalih adalah orang yang berkuasa, ahli hukum adalah pemimpin. Adapun persahabatan dengan manusia seperti itu adalah keuntungan”. 

Ada seseorang yang bertanya kepada Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu, “Wahai bapaknya Hasan! Jelaskanlah sifat-sifat dunia kepada kami”.

Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu balik bertanya, “Dengan panjang lebar atau singkat?”.

“Bahkan yang paling singkat”, kata orang tadi. 

Ali bin Abi Thalib radliyallahu ‘anhu berkata, “Halalnya adalah penghitungan dan haramnya adalah neraka”.

Subhanallah. Singkat tapi padat. 

Halal; jangan karena alasan halal akhirnya membuat lupa diri sehingga berlebihan. Misal, nasi. Nasi memang halal tetapi bila dimakannya berlebihan maka akan berubah menjadi tidak baik atau bahkan akan membuat seseorang menjadi –setidaknya- muntah-muntah karena kekenyangan. 

Oleh karenanya, walaupun halal tetap saja nanti akan diperhitungkan kelak di akhirat.

Haram; untuk yang satu ini tentunya sudah jelas. Namanya juga haram, maka apabila dilanggar pasti akan berujung ke neraka. 

Untuk lebih jelasnya alangkah baiknya perkataan Sayyar Abul Hakim. Beliau berkata, “Kegembiraan karena dunia dan perasaan sedih (mengkhawatirkan apa ayng akan dialami kelak) di akhirat tidak akan bersatu dalam hati seorang hamba. Bila satu menempati maka yang lain akan menyingkir”.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button