Perjalanan Menjemput Ajal Bag.13

Perjalanan Menjemput Ajal Bag.13

Ada ungkapan seorang ulama dahulu yang sangat cerdas dalam menyentil. Beliau adalah Wuhaib bin Ward. Kata beliau, “Jangan engkau mengutuk setan, sedangkan engkau mengambilnya sebagai teman”.

Ya, benar. Bukankah kebanyakan manusia seperti ini bersikapnya? Mereka ingin kebaikan tetapi ternyata yang diikuti justru kemauan setan. Atau setidaknya mereka mau dengan intrik-intrik setan. Lalu setelah sadar kemudian manusia mengutuk setan. 

Oleh karenanya hendaknya manusia menyadari terlebih dahulu bahwa hidup manusia itu seperti yang sudah diibaratkan di atas, yakni seperti perjalanan (panjang) di tol lalu berhenti sejenak di rest area untuk istirahat. 

Bila bekalnya sedikit maka dia harus melakukan pengiritan pengeluaran biaya. 

Di atas itu merupakan perumpamaan seorang musafir yang istirahat di rest area. Hanya saja apakah dirinya sadar dengan bekal yang dibawanya? 

Lalu bagaimana jika manusia saat ini sedang bersafar menuju akhirat? Tentu memerlukan bekal yang ekstra bukan? 

bekal akhirat

Nah dari sinilah terkadang banyak manusia yang berbeda-beda dalam memahami/mensikapi bekal mereka menuju negeri keabadian, akhirat. 

Pertanyaannya adalah; bekal apakah yang efektif bagi musafir yang sedang menuju negeri akhirat?

Ternyata Allah Ta’ala telah menyampaikannya sejak empat belas abad lebih tentang bekal paling efektif ini. Firman-Nya:

الْحَـجُّ أَشْهُـرٌ مَّعْـلُوْمَـاتٌ، فَمَـن فَـرَضَ فِيْـهِنَّ الْحَـجَّ فَلَا رَفَـثَ وَلَا فُـسُوْقَ وَلَا جِـدَالَ فِى الْحَـجِّ، وَمَـا تَـفْعَـلُوْا مِنْ خَيْـرٍ يَـعْلَـمْهُ اللهُ، وَتَـزَوَّدُوْا فِـإِنَّ خَيْـرَ الزَّادِ التَّـقْوَى، وَالتَّـقُوْنِ يَـآ أُوْلِى الْأَلْـبَـابِ.

(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa dan bertaqwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal. Qs. Al Baqarah 197.

Memang sepintas ayat ini membahas tentang ibadah haji. Tetapi bukankah ibadah haji sendiri juga di sana Allah telah menyampaikan agar mempersiapkan bekal terlebih dahulu? Dan bekal sendiri di situ disebutkan agar mempersiapkan mental yang lebih utama; yakni larangan rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan saat mengerjakan ibadah haji.

Walau begitu Allah jauh lebih menekankan bahwa yang lebih penting dan sangat penting adalah mempersiapkan mental. 

Ya, mental itu amat sangat penting. Yakni setelah mengetahui tentang seluk beluk fitnah dunia maka mentallah nanti yang akan menentukan; apakah manusia itu sanggup mewalan setan atau justru terlena oleh bujuk rayu dan strategi jebakan setan yang begitu menggoda. 

Sudah berapa banyak para pendahulu dari kisah yang pernah dikisahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tentang orang-orang abid (ahli ibadah) yang terjebak oleh setan sehingga mereka justru melakukan perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah; seperti minum khamar, berzina dan membunuh. 

Maka benarlah apa yang disampaikan imam Bukhari dalam penulisan hadits yang berjudul: Al Ilmu Qablal Qaulul wal Amal (ilmu sebelum berkata dan beramal).

Wallahu a’lamu bish shawaab.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button