Perjalanan Menjemput Ajal Bag.8
Di atas sudah dikisahkan bagaimana ahli waris yang serakah yang masih saja merasa kurang dengan kenikmatan dunia yang telah didapatkannya. Sehingga mereka dengan kelicikannya ingin ‘merubah’ kebiasaan orang tuanya yang biasanya selalu mengundang para fakir miskin untuk hadir ketika hendak panen.
Mereka bukan diajak atau dijadikan sebaai buruh memanen hasil kebunnya. Melainkan mereka hanya diminta untuk melihat para pekerjanya saat memanen hasil kebunnya.
Setelah ditimbang, orang tua yang shalih ini kemudian menghitung berapa banyak yang harus dikeluarkan sebagai zakat ataupun sedekah.
Nah para fakir miskin yang diminta hadir dan menonton itulah kemudian mereka mendapat jatah dari orang tua shalih ini. Sehingga semua para fakir miskin yang tinggal di sekitar kebun tersebut ikut merasakan hasil panennya.

Namun kebiasaan yang baik itu rupanya ingin dirubah oleh anak-anaknya. Sehingga mereka merencanakan memanen hasil kebunnya di pagi buta. Harapannya agar para fakir miskin itu tidak mengetahuinya. Sehingga mereka tidak perlu lagi mensedekahkan hasil panennya kepada mereka.
Akan tetapi Allah berkehendak lain. Mereka justru ditegur dengan cara Allah membakar kebunnya di malam hari buta.
Ya, begitulah dunia. Setiap orang sering berbeda-beda dalam mensikapinya. Ada yang tenggelam dengannya tetapi juga ada yang waspada terhadap dunia.
Adapun orang-orang yang tenggelam maka dia pasti telah terlena dengan kehidupan dunia itu sendiri. Sedangkan bagi yang waspada maka dialah orang-orang yang telah mempersiapkan kampung akhirat sebaik-baiknya.
Selain itu biasanya orang-orang yang sering tenggelam dengan keidupan dunia biasanya mereka suka tergagap ketika dikabarkan aka terjadi sesautu yang buruk yang akan menimpa dunia ini. Seperti akan terjadi benca alam, misalnya. Apalagi bila disebutkan bahwa akan terjadi Kiamat pada hari tertentu, maka mereka pasti panik.
Hal itu sangat berbeda dengan para salafush shalih. Seperti yang diriwayatkan Anas bin Iyadh rahimahullah, “Aku melihat Safwan bin Salim, meski telah dikatakan padanya; ‘Besok adalah hari Kebangkitan’, dia sama sekali tidak butuh ibadah tambahan”.
Kenapa begitu?
Sebab mereka telah mempersiapkan diri untuk kehidupan akhiratnya. Hal sangat berbeda dengan kebanyakan manusia. Yakni jika dikatakan bahwa besok akan terjadi hari Kiamat, maka mereka pasti akan menjadi penderma dadakan. Atau bahkan ada yang panik.
Maka waspadalah agar tidak mudah tergoda oleh ‘kemolekan’nya dunia. Jangan sembarangan dalam mencari ‘hiburan’, agar tidak menyesal di belakang hari. Sebagaimana kata Hasan Al Basri, “Waspadalah terhadap hiburan dunia yang sangat banyak. Jika seorang manusia membuka satu pintu godaan, maka pintu itu mungkin juga akan membukakan sepuluh pintu lainnya”.
Ibnu Samak berkata, “Barangsiapa yang merasakan manisnya kehidupan di dunia ini karena cenderung kepadanya, maka dia juga akan terasa kepahitan akhirat karena telah berpaling darinya (akhirat)”.
Maka benarlah apa yang difirmankan Allah Ta’ala:
Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedangkan apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya? Qs. Al Qashshash 60.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
