Perjalanan Menjemput Ajal Bag.2

Perjalanan Menjemput Ajal Bag.2

Kehidupan dunia memang sangat melenakan. Bahkan Allah Ta’ala sendiri pernah menceritakan tentang bagaimana rasa iri itu melanda pada kaumnya nabi Musa ‘alaiihi salam ketika mereka melihat ‘karnaval’ yang dihelat oleh Qarun waktu itu.

إِنَّ قَارُوْن كَانَ مِن قَوْمِ مُوْسَى فَـبَغَى عَـلَيْهِـمْ، وَآتَـيْنَـاهُ مِنَ الْكُـنُـوْزِ مَآ إِنَّ مَفَـاتِحَـهُ لَتَـنُوْأُ بِالْـعُصْـبَةِ أُوْلَى الْقُـوَّةِ إِذْ قَـالَ لَـهُ قَوْمُـهُ لَا تَـفْرَحْ، إِنَّ اللهَ لَا يُـحِـبُّ الْفِرِحِـيْنَ.

Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka dia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”. Qs. Al Qashshash 76.

Sementara itu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memandang dunia itu sangat remeh. Sabda beliau shalallahu ‘alaihi wa salam:

qorun kaum nabi musa

مَا لِى لِلدُّنْـيَـا إِنَّـمَا مَثَـلِى وَمَثَـلُ الدُّنْيَـا كَـمَثَـلِ رَاكِبٍ فِى ظِلِّ شَجَـرَةٍ، ثُـمَّ رَاحَ وَتَـرَكَـهَـا.

“Apalah artinya dunia bagiku. Sesungguhnya permisalan aku dengan dunia adalah seperti seorang pengandara yang beristirahat di bayangan sebuah pohon. Kemudian pergi dan meninggalkan pohon tersebut”. Diriwayatkan Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga menghimbau kepada umat Islam agar mempersiapkan kematian dan mengambil bekal untuk akhiratnya. Sabda beliau:

كُنْ فِى الدُّنْـيَـا كَأَنَّـكَ غَرِيْـبٌ أَوْ عَـابِـرُ سَبِـيْـلٍ.

“Jadilah –di dunia ini- seperti orang asing atau orang yang singgah”. Diriwayatkan Bukhari.

Oleh karenanya ketika masyarakat (kaumnya nabi Musa) melihat yang begitu “menggoda” karena hartanya yang berlimpah. Hingga mereka pun menghayalkan seandainya mereka seperti Qarun. Yang kerjanya hanya disibukkan dengan urusan dunianya. Maka Allah pun meresponnya agar jangan sampai terbuai seperti Qarun melainkan agar bersikap lebih mengedepankan urusan akhirat.

وَاتْـتَغِ فِيْـمَـآ ءَاتَـاكَ اللهُ الدَّارَ الْأَخِرَةَ وَلَا تَـنَسَ نَصِيْـبَكَ مِ،َ الدُّنْـيَـا، وَأَحْسِنْ كَمَـا أَحْسَنَ اللهُ إِلَيْـكَ، وَلَا تَـبْغِ الْفَـسَـادَ فِى الْأرْضِ، إِنَّ اللهَ لَأ يُـحِبُّ الْمُفْـسِدِيْـنَ.

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. Qs. Al Qashshash 77.

Oleh karenanya berhati-hatilah dalam memandang dunia. Agar tetap bisa fokus terhadap akhirat.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button