Susah Taubat? Bag.26
Membantu orang bertaubat:
Di atas sudah disinggung tentang orang yang hendak bertaubat tetapi menemukan rintangan. Bahkan ketika si pembunuh hendak bertanya kepada pendeta –dengan harapan sang pendeta memberi jawaban yang positif- ternyata jawabannya justru di luar dugaannya; Allah tidak akan mau menerima taubatnya –kata pendeta.
Karena geram –karena hendak taubat malah dijawab tidak diterima taubatnya- maka si pembunuhpun akhirnya justru menambah dosanya dengan cara membunuh pendeta itu hingga lengkaplah jumlah orang yang dibunuhny amenjadi seratus orang.
Walau kemudian dia pergi ke tanah lapang lalu di sana dia nangis tersedu hingga ajal menjemput, ternyata Allah menerima taubatnya.
Nah dari kejadian itulah akhirnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam berbuat sangat bijak kepada orang pendosa dan pelaku maksiat.

Ya, sungguh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah manusia teladan paling sempurna. Beliau sangat bijak sekali ketika menghadapi seorang yang ingin bertaubat. Padahal dulunya orang ini paling suka memalak, memperkosa, merampok dan sebagainya. Contohnya adalah sebagai berikut ini:
Suatu ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam didatangi seorang pelaku maksiat. Beliau ditanya tentang Islam. Lalu dengan simpel Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menjawab bahwa Islam itu kejujuran.
Begitu mendengar jawaban simpelnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, si pelaku maksiat inipun agak kaget mengatakan, “(Hanya) kejujuran?”.
Setelah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam meyakinkannya maka si pelaku maksiat itupun masuk Islam dan bertaubat untuk tidak melakukan perbuatan maksiat dan dosa kembali.
Sudah selesai? Ternyata belum.
Kemudian setiap hari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam selalu memantau perilaku si mantan pelaku maksiat ini.
Suatu ketika di saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam duduk-duduk bersama beberapa sahabat, tahu-tahu dia berjalan di jalanan dan diketahui Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Maka dipanggillah si mantan pelaku maksiat ini, lalu ditanya; mau ke mana dan berniat apa?
Si mantan pelaku maksiat ini teringat agar selalu jujur setiap saat. Maka dijawab pertanyaan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam itu dengan mengatakan bahwa dirinya hendak mendatangi seorang wanita dan ingin memperkosanya.
Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dengan santainya mengatakan dengan cara pengambilan analognya. Yakni bagaimana perasaannya apabila ada seorang laki-laki kemudian memperkosa ibunya, atau kakak-adik perempuannya, atau anak perempuannya, atau keponakan perempuannya diperkosa?
Dengan jujur si mantan pelaku maksiat itu menjawab bahwa dirinya sama sekali sangat tidak terima. Dan bahkan akan menuntut balas dengan balasan setimpal atau bahkan lebih lagi.
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam mengatakan bahwa hal yang samapun akan terjadi pada keluarga wanita yang rencananya akan diperkosa itu. Dan itu akan terus menjadi dendam kesumat yang tiada akhir.
Mendengar penjelasan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ini si mantan pelaku maksiat sadar, kemudian beliau undur diri untuk pulang dan mengurungkan niat jahatnya.
Lalu pada lain waktu (setelah kejadian itu) Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam juga sedang duduk-duduk bersama beberapa sahabat, beliau melihat si mantan pelaku maksiat ini berjalan di jalan yang bisa dilihat Rasulullah.
Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam memanggilnya dan bertanya, mau ke mana dan apa tujuannya.
Si mantan pelaku maksiat itu menjawab bahwa dirinya hendak pergi ke rumah sii fulan hendak merampok harta kekayaannya.
Kembali lagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam melontarkan pertanyaan yang sifat analog dengan mengatakan; bagaimana seandainya hartanya dirampok.
Maka dijawab dengan jujur bahwa pasti dirinya akan mempertahankan hartanya. Dan seandainya hartanya berhasil dirampok maka dia pasti akan berusaha untuk mengambil kembali hartanya yang dirampok dengan berbagai cara.
Setelah dia jawab sendiri jawabannya akhirnya si mantan pelaku maksiat ini mengurungkan niat jahatnya dan pamit pulang.
Beberapa waktu berikutnya kembali Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam melihat si mantan pelaku maksiat ini berjalan dan (Rasulullah) memanggilnya. Setelah menghadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menanyakan mau ke mana dan untuk urusann apa?
Lalu dijawab bahwa dirinya mau ke rumah seseorang untuk membunuhnya.
Kembali lagi Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam menyadarkannya dengan melemparkan pertanyaan analog.
Walhasil si mantan pelaku maksiat itu akhirnya benar-benar mampu bertaubat.
Wallahu a’lamu bish shawaab.

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
