Susah Taubat? Bag.23

Susah Taubat? Bag.23

Agar benar-benar taubat nashuha.

Dari kedua puluh lima (contoh) efek negatif dari perbuatan maksiat dan dosa menunjukkan bahwa agar bisa selamat dari efek negatifnya tiada lain jalannya kecuali bertaubat kepada Allah secara sungguh-sungguh, taubatan nashuha. Setelah taubat barulah melakukan hal-hal positif (yang ma’ruf); baik secara sendiri-sendiri (amal fardi) maupun secara bersam-sama (amal jama’i). 

Nah setelah bertaubat dan mencoba melakukan amal fardi (pribadi/sendiri) dan amal jama’i (berjamaah) maka perlu diketahui bahwa para pelaku maksiat tidak akan rela bila kawanannya berkurang. Mereka pasti akan berusaha mengembalikan temannya yang kembali ke jalan Allah (taubat) ini. 

agar benar-benar taubat nasuha

Oleh karena itu hendaknya bagi orang yang bertaubat meolakukan hijrah. Baik hijrah secara maknawi maupun makani. 

Hijrah secara maknawi: dia harus benar-benar meninggalkan segala bentuk maksiat yang dahulunya pernah dilakukannya. Kemudian dia harus mengganti komunitasnya dengan orang-orang shalih dan shalihah. Agar selalu terjaga amal shalihnya. Selain itu agar ketika dia melakukan suatu kekhilafan maka segera ada yang mengingatkannya.

Hijrah secara makani: bila memang hijrah maknawi ternyata masih banyak dari kawanan dirinya sewaktu masih sering melakukan kemaksiatan selalu mendatanginya, maka hijrah secara makani (tempat) menjadi suatu keharusan. Tujuannya agar menghilangkan jejak dari mereka-mereka yang suka bermaksiat. 

Bila tidak; apakah dirinya menolak mantan teman-teman maksiatnya yang selalu mendatanginya untuk mengajak kembali ke jalan dosa lagi? Atau sanggupkah dirinya bertahan dalam keimanannya yang sedang dibangunnya dari awal ini? Sementara lingkungannya sangat tidak mendukung, misalnya.

Maka benarlah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

أَنَا بَـرِيءٌ مِنْ كُـلِّ مُسْلِـمٍ يُـقِـيْمُ بُيْـنَ أَظْهَـرِ الْمُشْرِكَـيْنَ. قَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ، وَلِـمَ؟ قَالَ: لَا تَـرَايَـا نَارَاهُـمَا.

“Aku berlepas diri dari setiap muslim yang tinggal bersama orang-orang musyrik”. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kenapa (bisa begitu)?”. Rasulullah menjawab: “Tidak pantas rumah mereka saling berhadapan”. Diriwayatkan Tirmidzi. Sebagaimana diceritakan Hannad, dari Abu Mu’awiyah, dari Ismail bin Abu Khalid dari Qais bin Abu Hazim dari Jarir bin Abdullah. hadits no. 1530. 

Sementara ada hadits yang mirip yang mengatakan:

لَا تُـسَاكِـنُوْا الْمُشْـرِكِـيْنَ وَلَا تُـجَامِـعُوْهُـمْ. فَـمَنْ سَاكَـنَهُـمْ أَوْ جَامَـعَهُـمْ فَهُوَ مِـثْلُـهُمْ.

“Janganlah kalian bertempat tinggal dengan orang-orang musyrik dan jangan pula bergaul dengan mereka, oleh karena itu barangsiapa yang bertempat tinggal atau bergaul dengan mereka maka dia seperti mereka”. Diriwayatkan Tirmidzi. Sebagaimana diceritakan Hammad bin Salamah dan Al Hajjaj bin Arthah dari Ismail bin Abu Khalid dari Qais dari Jarir. 

Jadi ternyata hijrah secara makani (tempat) itu memang diperlukan, agar tidak lagi terpengaruh oleh kemaksiatan yang bisa jadi akan timbul kembali.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button