Bentuk-bentuk Istihza’ Bag.36
Istihza’ berikutnya: istihza’ terhadap orang-orang mukmin.
3. Para ulama rabbani.
Seperti sudah diketahui bahwa ulama itu terbagi dua; ada ulama yang bisa dibeli dan ada (juga) ulama yang tidak bisa dibeli.
Ulama yang bisa dibeli disebut ulama suu’ (ulama yang buruk). Sedangkan ulama yang tidak bisa dibeli disebut ulama rabbani.
Karena ulama suu’ bisa dibeli maka ulama jenis ini tidak pernah sama sekali mendapatkan pembully-an alias istihza’ dari orang-orang yang benci terhadap kaum muslimin. Melainkan justru mendapatkan pujian.
Berbeda dengan ulama rabbani. Sepanjang sejarah sering sekali ulama rabbani mendapatkan cibiran, bullying, bahkan akhir kehidupannya berada dibalik jeruji besi.
Atau setidaknya pernah merasakan hidup dalam kegelapan dan dinginnya penjara. Lihat saja seperti Ibnu Taimiyah dan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahumallah.

Yang Ibnu Taimiyah dipenjara sampai akhir hayatnya. Dan ketika beliau meninggal, ternyata di seluruh dinding tembok penjaranya tertulis tulisan-tulisan beliau tentang hukum-hukum Islam.
Dan ketika dibukukan ternyata semuanya mengandung ilmu yang luar biasa. Yakni begitu banyak persoalan-persoalan kaum muslimin terjawab dari goresannya yang tertulis pada dinding-dinding penjara.
Kenapa Ibnu Taimiyah sampai menulis pada dinding-dinding penjara?
Sebab semua hal yang sekiranya bisa untuk menulis (baik buku dan pena) disita oleh para sipir.
Semantara Imam Ahmad bin Hanbal, ketika di penjaranya, beliau disiksa dengan cara dicambuk pada sekujur tubuhnya. Sehingga do’anya beliau saatitu adalah agar semoga Allah menguatkan tali celananya (kalau sekarang ikat pinggangnya, pen.).
Ketika ada orang yang menjenguk Imam Hanbal, orang tersebut menyarankan agar untuk sementara mau mengikuti kemauan penguasa. Tujuannya agar siksaan yang diterimanya bisa berkurang. Tetapi Imam Ahmad bin Hanbal menjawab bahwa jika orang lian mungkin tidak apa-apa. Sebab dia tidak akan membawa pengaruh apa-apa kepada umat. Namun akan berbeda jika yang melakukan Imam Ahmad bin Hanbal.
Yakni beliau takut jika beliau (walau terpaksa) mau mengikuti kemauan penguasa, maka kaum muslimin di belakang hari pasti akan suka meremehkan syari’at. Yakni dengan alasan ‘terpaksa’ mereka meremehkan syari’at. Hal itu (yang beliau takuti) mereka melihat dari sikap Imam Ahmad bin Hanbal ini.
Itu artinya bahwa beliau ingin memberi teladan kepada kaum muslimin setelahnya.
Maka benarlah Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّـمَا يَخْـشَى اللهَ مِنْ عِـبَادِهِ الْعَلَمَـاءُ.
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Qs. Faathir 28.
Karena takutnya kepada Allah itulah yang membuat Imam Ahmad bin Hambal (dan para ulama rabbani lainnya) tetap komitmen dengan keyakinannya. Agar umat Islam di belakangnya juga ikut takut kepada Allah.
Wallahu a’lamu bish shawaab.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet masjid, karpet kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, karpet permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
