Bentuk-bentuk Istihza’ Bag.10

Bentuk-bentuk Istihza’ Bag.10

Istihza’ kedua: istihza’ kepada Rasululah shalallahu ‘alaihi wa salam.

e. Istihza’ dengan mengatas namakan hadits.

Bila berbicara masalah (ilmu) hadits maka akan terasa sulit tetapi sangat menarik.

Sulit karena mungkin terlalu banyak mengenal banyak nama-nama orang, perikehidupannya, bahkan sampai ke masalah urusan pribadinya. Adapun menariknya karena di sana akan mengetahui tentang para perawi (pembawa riwayat) hadits.

Tujuannya agar hadits-hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tetap terjaga.

Sebab sejak meninggalnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, ternyata banyak sekali orang yang menayampaikan sesuatu kemudian dikatakan bahwa sesuatu yang baru saja diucapkannya itu adalah hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Hal itu membuat banyak dari kalangan kaum muslimin kebingungan. Sebab begitu banyak ucapan seseorang yang kemudian diklaimkan sebagai hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.

Ya, kaum muslimin kebingungan. Manakah sebenarnya hadits Rasulullah dan manakah hadits yang palsu.

Maka dari sanalah akhirnya para ahli hadits membuat rumusan-rumusan tentang hadits. Harapannya agar segera ketahuan mana-mana hadits asli dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan mana yang bukan.

hadits

Sehingga dalam ilmu hadits ada beberapa nama-nama istilah mengenai suatu hadits. Hal itu agar memudahkan bagi umat dalam memahami hadits. Seperti; hadits shahih, shahih li ghairihi, hasan, mursal, mardud dan lain sebagainya.

Selain itu bertujuan untuk meminimalisir terhadap orang-orang yang suka melakukan istihza’ terhadap Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, terutamanya masalah hadits ini. Di antaranya adalah:

Hadits tentang hubbul wathan

Sampai hari ini sering sekali terdengar tentang sebuah kalimat yang diklaim sebagai sebuah hadits dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Yaitu tentang cinta pada negara. Adapun kalimat itu adalah:

حُبُّ الْوَطَانُ مِنَ الْإِيْـمَانِ.

Cinta pada negara adalah bagian daripada iman.

Padahal jika dicerna maka hadits (kalimat) yang sebagai hadits tersebut sebenarnya sangat berbenturan dengan perilaku Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sendiri. Betapa tidak?

Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah keturunan Quraisy? Dari kabilah Bani Hasyim? Tetapi kenyataannya beliau justru hijrah meninggalkan kota Makkah –sebagai kota kelahirannya-, lalu setelah mempunyai kekuatan, beliau malah perang melawan musyrikin Quraisy Makkah.

Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak pernah kontradiksi antara ucapan dan perbuatan?

Maka berhati-hatilah bila kalimat itu bukan dari Rasulullah sebaiknya jangan diklaimkan sebagai hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Sebab akan bisa membahayakan diri sendiri.

Bukankah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda bahwa barangsiapa yang mengatas namakan pada diri beliau padahal sesuatu itu sebenarnya bukan dari beliau, maka dia telah dibuatkan rumah (oleh Allah) di neraka.

Wallahu a’lamu bish shawaab.

Oleh: Abu Ibrahim

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button