Awal Munculnya Istihza’ Bag.7
Istihza’, arti mudahnya adalah bercanda/lawakan yang berlebihan dan tidak terkontrol sehingga (hasil) dari candaan/lawakannya itu membuat pelakunya mengucapkan/membuat suatu gambaran yang bisa membuat pelakuknya mendapatkan murka Allah. Atau bahkan bisa membuat pelakunya keluar dari agama Islam.
Salah satu di antaranya adalah;
4. Sombong
Sudah jelas bahwa sombong itu dilarang dalam Islam. Sebab yang boleh sombong itu hanya Allah saja. Bahkan Allah juga telah memberikan nama-Nya dengan nama AL MUTAKABBIR (Yang Maha Sombong).
هُوَ اللهُ الَّذِى لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهْيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّـارُ الْمُتَـكًبِّـرُ، سُبْحَانَ اللهِ عَمـَّا يُشْرِكُوْنَ.
Dia-lah Allah yang Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengkaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Maha Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Qs. Al Hasyr 23.

Jelas sekali di ayat di atas. Allah saja yang memiliki sifat sombong. Sebab hanya Allah saja yang memiliki kesempurnaan dalam segala hal. Maka tidak salah bila Allah bersikap sombong.
Tetapi bila manusia bersikap sombong maka bisa dipastikan bahwa sikap sombongnya itu pasti menjatuhkan yang lainnya. Seperti;
وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَـلً رَّجُلَيْنِ جَعَلْـنَا لِأَحَدَهِـمَا جَنَّـتَيْنِ مِنْ أَعْنَـابٍ وَحَـفَفْنَـاهُمَا بِحَـنْلٍ وَّجَعَـلْنَا بَيْـنُهُـمَا زَرْعًـا. كِلْـتَا الْجَنَّـتَيْنِ أَتَـتْ أُكُـلَهَـا وَلَمْ تَظْلِـمْ مِنْهُ شَيْئًـا، وَفَـجَّرْنَـا خِلَالَهُـمَـا نَهَـرًا. وَكَانَ لَهُ ثَمْـرٌ فَـقَـالَ لِصَحِبِـهِ وَهُوَ يُـحَاوِرُهُ أَنَـا أَكْـثَرُ مِنْكَ مَالًا وَأَعَـزُّ نَـفَرًا.
Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang anak laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kedua kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika dia bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”. Qs. Al Kahfi 34.
Ayat di atas memberikan gambaran bahwa baru sedikit saja merasa kaya dia (orang kafir dalam ayat itu) sudah sombong. Dia merasa memiliki kekayaan yang lebih dibandingkan dengan temannya (yang muslim).
Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Wahai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)? Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkatannya)?”. Qs. Az Zukhruf 52.
Lihatlah begitu sombongnya Fir’aun kepada nabi Musa. Karena dai merasa bahwa dirinya seorang raja. sehingga dengan ringannya dia sombong dan menghinakan (istihza’) terhadap nabi Musa ‘alaihi salam.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
