Awal Munculnya Istihza’
Sebenarnya istihza’ itu timbul/munculnya bukan spontanitas melainkan ada sebab penyebabnya. Sebab istihza’ itu dilontarkan ketika seseorang dalam kondisi sadar di saat mengucapkan/melontarkan kata-katanya.
Tetapi apabila ketika melontarkan kalimat/ucapannya di luar dari kesadarannya, kemudian ketika dirinya menyadari jika dirinya telah melontarkan kalimat istihza’. Maka hal seperti ini tidak mengapa atau tidak berdosa.
Hal itu dahulu pernah diceritakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ter\ntang seorang musafir yang kehilangan ontanya.
Ya, saat itu ada seorang musafir yang berjalan ditengah terik matahari. Ketila melihat ada pohon besar yang rindang maka sang musafirpun segera turun dari ontanya dan beristirahat di bawah pohon tersebut.
Karena terlalu capeknya, sang musafir itupun tertidur dengan sangat pulas.

Lalu ketika dia terbangun sang musafir tidak mendapati ontanya di sekitarnya. Maka paniklah dia. Sebab di tengah hamparan padang pasir yang begitu ganas dan panas itu, ke manakah dia harus mencari ontanya.
Namun setelah dirinya menenangkan diri lalu dia tinggal shalat sebentar. Tidak lama kemudian datanglah ontanya dengan mendekatinya.
Begitu mengetahui ontanya kembali dengan sendirinya sontak dia segera bersyukur kepada Allah dengan mengucapkan: “Alhamdulillah. Engkau hambaku dan Aku Robb-Mu”.
Setelah menyadari apa yang diucapkannya ternyata salah dan bisa berakibat fatal (dalam hal tauhid) maka sang musafir langsung menangis hingga habis air matanya dan meninggal dunia. Sebab seharusnya yang diucapkan adalah: “Alhamdulillah. Engkaulah Robbku dan aku adalah hamba-Mu”.
Oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sang musafir ini tidak dikatakan kafir disebabkan ketidak sengajaannya dalam ucapannya. Dan sang musafir langsung bertaubat dengan taubatan nasuha. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِـكُـمْ وَجَـنَّةٍ عَرْضُهَـا السَّمَـاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُـتَّقِـيْنَ.
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Qs. Ali Imran 133.
Itulah yang Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kisahkan kepada sahabat, bahwa orang seperti ini tidak termasuk dalam katagori istihza’. Sebab sama sekali tidak memiliki unsur kesengajaan.
Jadi seperti orang gila yang –seandainya- mengucapkan hal-hal seperti itu ya dia tidak bisa dijuluki telah melakukan perbuatan istihza’.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
