Ringkasan Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah Bag.54
Di mana Ahlu sunnah?
Di atas sudah dijabarkan tentang ahlu sunnah; baik secara definitif, nama lainnya, aqidahnya, dan ciri-ciri khsususnya. Begitu juga tentang kelompok Asy’ariyah yang pada dasarnya sepintas memang mirip-mirip dengan ahlu sunnah, tetapi apabila mau di-zoom lebih dalam maka akan diketahui bahwa ternyata kelompok Asy’ariyah sangat berbeda dengan ahlu sunnah. Walaupun sebenarnya kelompok Asy’ariyah sendiri telah banyak menyebar ke berbagai dunia (negeri-negeri) Islam.
Lalu seperti apakah ahlu sunnah itu? Bagaimana ciri-cirinya bila berada di tengah-tengah kaum muslimin?
Sesungguhnya ahlu sunnah sudah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam sebutkan sifat-sifat dan ciri-cirnya. Sehingga sudah sangat terang seterang matahari di siang bolong. Yaitu;
1. Mereka selalu mengikuti petunjuk Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Baik secara ibadah, aqidah, akhlak, dan tindak tanduknya. Semuanya mengkiblat kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam.
Mereka –ahlu sunnah- sangat kentara jelas (ibadahnya, aqidahnya, akhlaknya dan tindak tanduknya). Sejak dahulu, pada masa sahabat hingga tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Sebab mereka tidak pernah merubah dan tidak pernah memasukkan ide-ide/pahampaham lain ke dalam ajaran/prinsip-prinsip ahlu sunnah.
2. Mereka selalu berpegang teguh pada aqidah salafush shalih.

Yang dimaksud dengan perpegang teguh dengan aqidah para salafush shalih adalah bahwa mereka menerima semua i’tiqad (keyakinan)nya lalu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya menurut kadar kemampuannya. Serta menolak (atau setidaknya tidak ada hasrat untuk menerima) ajaran atau faham dari selain dari para salafush shalih.
Adapun yang dimaksud dengan para salafush shalih adalah tiga generasi awal Islam, sebagaimana yang pernah disabdakan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Mereka itu; para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Selain dari ketiga generasi di atas maka mereka itu bisa jadi orang-orang yang mengikuti para salaf atau justru sebaliknya.
Bila ternyata mereka sebaliknya (tidak mengikuti jejak salafush shalih) maka mereka tidak bisa diambil ilmu keagamaannya.
3. Mereka terbebas dari talbis (kepura-puraan/tipuan) berupa bid’ah dan syirik.
Hal itu disebabkan mereka sudah tahu betul tentang salafush shalih. Ibarat orang yang buta; dia sudah tahu tahu betul mana suara orang tuanya, suara saudaranya, suara istri/suaminya dan sebagainya. Sehingga dia tidak akan tertipu walaupun seumur hiudpnya dia tidak pernah melihat wajah orang tuanya, saudaranya, dan istri/suaminya.
Hal itu tidak jauh berbeda sebenarnya tidak jauh berbeda dengan orang-orang ahli Kitab yang mengetahui tentang ciri-ciri seorang rasul terakhir yang akan datang.
الَّذِيْنَ آتَيْـنَـاهُمُ الْكِـتَابَ يَعْرِفُوْنَـهُ كَـمَا يَعْرِفُوْنَ أَبْـنَـاءَهُـمُ الَّذِيْنَ خَـسِرُوْا أَنْـفُـسَهُمْ فَـهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ.
Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenali anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). Qs. Al An’aam 20
Hanya saja yang membedakan adalah, jika dalam ayatnya mereka adalah orang-orang Ahli Kitab. Mereka tahu betul tentang siapa itu Rasulullah. Namun setelah mengetahui ternyata Rasulullah bukanlah dari golongannya maka mereka tidak mau beriman.
Hal itu berbeda dengan ahlu sunnah. Mereka mengetahui betul tentang siapa itu para salafush shalih dan kemudian mereka mengikuti jejaknya.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
