Ringkasan Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah Bag.48
Antara ahlu sunnah dan Asy’ariyah.
Hingga saat ini –terkhusus di Indonesia- kebanyakan orang masih belum memahami perbedaan antara ahlu sunnah dan asy’ariyah. Sehingga kebanyakan kaum muslimin menganggap bahwa ahlu sunnah itu ya asy’ariyah, dan asy’ariyah itu ya ahlu sunnah.
Lalu di mana sebenarnya berbedaannya?
Untuk membahas mengenai perbedaan antara ahlu sunnah dan asy’ariyah itu sangat panjang. Tetapi alangkah baiknya bila mengetahui terlebih dahulu perbedaan yang sangat mendasar di bawah ini:
1. Ahlu sunnah;
Semua ulama sepakat bahwa ahlu sunnah itu adalah mereka yang selalu berjalan di atas sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Dan mereka selalu berjama’ah –baik di saat shalat maupun di luar shalat; sebagaimana yang disampaikan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam –(dalam hadits yang disampaikan agar berjama’ah)-.
Mereka juga disebut ahlu sunnah. Maksudnya bahwa mereka mengikuti kebiasaan para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in (tiga generasi awal Islam). Dan mereka sama sekali tidak pernah melakukan/membuat hal-hal yang baru, atau merubah, atau mengganti, atau mengatakan sesuatu sebagai ajaran dari agama (Islam) dengan cara serampangan. Mereka juga tidak pernah merubah ajaran-ajaran aqidah ketiga generasi tersebut di atas dengan ajaran (agama) lain atau mencampur aduknya dengan ajaran (agama) lain atau bahkan menggantinya.

2. Asy’ariyah;
Maka sesungguhnya ini adalah kelompok (madzhab) tersendiri yang lebih disandarkan pada imam Abu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari. Yang hidup setelah generasi terbaik dari umat ini, yakni wafat pada tahun 323/324 H. Bertepatan dengan 935 M.
Pendirinya, Abu Hasan Ali Bin Ismail Al Asy’ari ini berganti-ganti pemahamanya sampai tiga kali. Awalnya berfaham mu’tazilah. Selain itu Abu Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari juga lebih mengedepankan filsafat.
Awalnya Asy’ariyah hanya menetapkan tujuh sifat ma’ani saja bagi Allah yang tetapkan menurut akal (aqliyah); yaitu hayah, ilmu, qudrah, iradah, sama’, bashar dan kalam. Kemudian ditambahkan oleh As Sanusi menjadi dua puluh sifat, dan tidak menetapkan satupun sifat fi’liyah (seperti; istiwa’, nuzul, cinta, ridha, marah dan sebagainya).
Tetapi dalam masalah penggunaan akal dalam penafsiran wahyu misalnya, Abu Hasan Ali bin Ismail Asy’ari sendiri menyarankan agar dalam penafsiran Al Qur’an lebih merujuk kepada penjelasan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan penafsiran yang mutawatir di kalangan para sahabat.
Nah dari sinilah akhirnya Abu Hasan Ali bin Ismail Asy’ari justru keluar dari faham Mu’tazilah dan Jahmiyah, kemudian malah justru mengkritisi faham Mu’tazilah yang lebih mengutamakan akal daripada dalil naqli (Al Qur’an dan As Sunnah).
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.
