Ringkasan Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah Bag.2
Ketiga: Apabila terjadi perselisihan dalam masalah agama, maka harus dikembalikan kepada Allah dan rasul-Nya.
Ayatnya sudah jelas;
يَـأَيُّـهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَطِيْعُوْا اللهَ وَأَطِيْعُوا الرَسُوْلَ وَأُوْلِى الْأَمْرِ مِنْـكُـمْ، فَـإِنْ تَـنَازَعْـتُمْ فِي شَـيْئٍ فَرُدُّوْهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُوْلِ إِنْ كُـنْـتُمْ تُؤْمِـنُوْنَ بِاللهِ وَ الْـيَوْمِ الْآخِرِ، ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَـأْوِيْلًا.
Wahai orang-orang yang beriman,taatilah Allah dan taatilah rasul-Nya dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian (di kemudian hari) berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah (perkara yang membuat berbeda pendapat itu) kepada Allah (Al Qur’an) dan rasul-Nya (Sunnahnya) jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebihbaik akibatnya. Qs. An Nisaa’ 59.
Ayat di atas jelas sekali, yakni setiap orang beriman diwajibkan taat kepaad Allah (Al Qur’an) dan rasul-Nya (sunnah-sunnahnya).
Ya di sana disebutkan kalimat أَطِيْعُوْا (taatilah). Dan kalimat itu hanya ada di depan kalimat Allah dan rasul-nya saja, sementara tidak ada kalimat أَطِيْعُوْا (taatilah) di depan kalimat ulil amri. Itu maknanya bahwa Allah dan rasul-nya tidak pernah salah alias ma’shum. Sementara itu ulil amri adalah hanya seorang manusia biasa yang terkadang benar tapi juga terkadang salah.

Nah, karena ulil amri itu hanya seorang manusia biasa yang seperti manusia-manusia lainnya maka tidak menutup kemungkinan bila ulil amri sendiri juga salah dalam memahami suatu perkara. Dan dengan salah dalam memahami suatu perkara akhirnya akan berimbas pada kebijakan.
Dan biasanya apabila terjadi kebijakan yang kontra produktif tentu akan berakibat negatif pada rakyatnya.
Karenanya untuk menghindari tajamnya perselisihan, makanya ayat di atas telah memberikan petunjuk. Yakni agar semua perkara yang membuat terjadinya perselisihan itu harus dikembalikan kepada Allah (Al Qur’an) dan rasul-Nya (As Sunnah). Sebab keduanya telah ma’shum.
Lalu bagaimana jika ternyata dalam Al Qur’an danAs Sunnah pun tidak didapatkan contoh perkaranya?
Maka harus turun satu tingkat; yakni kepada para sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Tidak boleh langsung turun kepada tabi’in ataupun tabi’ut tabi’in.
Itulah aturan baku dan termasuk bagian dari akhlak Islam. Kenapa?
Sebab para sahabatlah yang tahu akan penyebab turunnya ayat demi ayat. Dan bahkan ayat-ayat Allah itu turun juga sebagai saksi atas pengorbanan mereka. Setidaknya ada dua (walau sebenarnya lebih) ayat yang telah menjadi saksi atas pengorbanan mereka, yaitu;
1. Al Qur’an telah menjadi saksi kepada paa sahabat yang ikut dalam perang Tabuk.
لَـقَد تَاب اللهُ عَـلَى النَّـبِيِّ وَالْمُـهَـجِرِيْنَ وَالْأَنْـصَارالَّذِيْنَ اتّـبَعُوْهُ فِى سَـاعَةِالْـعُسْرَةِ.
Sesungguhnya Allah telah menerima taubat nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar dan yang mengikuti nabi dalam masa-masa kesulitan. Qs. At Taubah 117.
2. Allah menurunkan ayat kepada seribu empat ratus sahabat yang ikut dalam bai’at Ridwan.
لَـقَدْ رَضِيَ اللهُ عَنِ الْـمُؤْمِـنِيْنَ إِذْ يُـبَـايِـعُوْنَـكَ تَحْـتَ الشِّـجَرَةِ.
Sesungguhnya Allah telah ridla terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon. Qs. Al Fath 18.
Wallahu a’lam.
Oleh: Abu Ibrahim
Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

