Ciri Khusus Aqidah Islam Dan Para Pengikutnya Bag.8

Ciri Khusus Aqidah Islam Dan Para Pengikutnya Bag.8

8. Aqidahnya umat.

Akhir-akhir ini sering terdengar tentang seruan untuk kembali kepada Al Qur’an dan As Sunnah. Atau ada juga fenomena tentang kerusakan akhlak manusia (baca: umat Islam). Atau fenomena gaya hidup borjuis yang melanda kalangan umat Islam. Atau begitu banyaknya umat yang ingin meraih sukses dengan cara instan.

Dari kabar-kabar di atas menunjukkan bahwa saat ini umat sedang mengalami pesakitan yang sangat kronis. Sehingga perlu penanganan khusus, perhatian ekstra, didiagnosa secara menyeluruh (holistik) dan seterusnya. Apabila semua sudah dilakukan maka didapatkan kesimpulan bahwa terapinya harus seperti begini atau begitu.

Begitulah kira-kira umat islam itu diibaratkan seperti tubuh yang mengalami sakit kronis.

Dan memang penyakit umat hari ini ya seperti yang disebutkan di atas. Maka terapinya ya harus kembali kepada ajaran Islam yang pertama dan dengan sistem pembinaan seperti apa yang telah dilakukan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam kepda para sahabat radliyallahu ‘anhum ajma’in.

Yaitu kembali kepada aqidah Islam yang benar, yakni aqidah ahlu sunnah wal jamaah!

Sebab dengan umat kembali kepada aqidah ahlu sunnah maka segala penyakit kronis yang dialami akan terobati secara sempurna. Karena pada kehidupan para salafus shalih telah ada semua contoh sebagai obat bagi umat yang sedang sakit.

Sumbernya Aqidah (Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jamaah) Bag.4

Borjuis misalnya, hidup yang selalu memandang harta sebagai barometernya. Sehingga seseorang dianggap berhasil dan terpandang apabila nilai kekayaannya semakin meningkat. Atau setidaknya terlihat dari penampilan dhahirnya.

Padahal dalam Islam justru muncul syariat zakat yang di setiap harta orang kaya itu tersimpan harta orang-orang miskin yang harus dikeluarkan.

Selain itu sahabat Abdurrahman bin Auf pun telah memberikan teladan dengan makanan sehari-hari beliau. Yakni beliau makan sebagaimana makannya orang-orang miskin Madinah, tidak lebih. Kenapa?

Karena Abdurrahman bin Auf menyadari bahwa kehidupan akhirat itu abadi sedangkan kehidupan dunia itu fana. Dan harta kekayaan itu bersifat titipan sedangkan harta abadi adalah harta yang disalurkan di jalan Allah melalui zakat, infak dan sadaqah.

Nah dari sana akhirnya tidak ada lagi ketimpangan dan jurang pemisah antara si kaya dan si miskin.

Adapun tentang kerusakan moral maka di masa Rasulullah dan sahabat telah dilakukan ‘perombakan’ akhlak/moral. Sehingga akhlaknya para sahabat adalah Al Qur’an. Yang akhirnya diteladani oleh para tabi’in dan tabi’ut tabi’in.

Sedangkan keinginan untuk meraih kesuksesan secara instan, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dan para sahabatnya juga telah memberikan contohnya juga. Yaitu mereka selalu berusaha dan berdoa, sedangkan penentunya adalah Allah Ta’ala.

Apabila usaha dan ikhtiarnya berhasil maka mereka akan mengucapkan:

هَذَا مِنْ فَضْـلِ رَبِّى لِيَـبْلُوَنِي ءَأَشْـكُرْ أَمْ أَكْـفُرْ.

Ini termasuk karunia Tuhankuuntuk mencoba aku apakah aku bersyukur ataukah (aku) mengingkari (akan nikmat-Nya). Qs. An Naml 40.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button