Dakwah Nabi Kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Salam Bag.5

Dakwah Nabi Kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wa Salam Bag.5

Apabila melihat turunnya surat Al Haj 39 di atas tentu semuanya tahu bahwa ayat itu turun di saat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam hendak keluar rumahnya untuk hijrah ke Madinah.

Itu artinya bahwa apabila selama penegakan dakwah tauhid dan syariat lain tidak ada gangguan maka jihad tidak akan mungkin ditegakkan.

Pun begitu, sebelum jihad ditegakkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam membina akhlak para sahabat beliau terlebih dahulu. Tujuannya?

Agar para sahabat dan kaum muslimin memililki akhlak dalam berperang sekalipun. Apalagi di saat damai. Hal itu bisa dilihat pada dua contoh kasus dalam akhlak, berikut ini;

1. Di saat damai.

Ketika Islam belum belum datang maka akhlak ibarat mutiara yang terpendam di dasar lautan paling dalam. Tetapi ketika Rasulullah hadir ditengah-tengah umat dengan membawa obor sebagai penerangnya, maka akhlaklah yang pertama kali diajarkan (setelah tauhid tentunya). Bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda;

إِنَّـمَا بُـعِثْـتُ لِأُتّـمِّـمَ مَكَـَرِمَ الْأَخْـلَاقِ.

Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak. Diriwayatkan Bukhari, hadits dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu.

Sementara pada hadits lain disebutkan;

إِنّـمَا بُـعِثْـتُ لِأُتَـمِّـمَ صَالِحَ الْأَخْـلَاقِ.

Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan keshalihan akhlak. Diriwayatkan Ahmad.

Ya, akhlak yang salah satunya diajarkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam adalah ketika terjadi sedikit perselisihan antara Abdurrahman bin Auf dengan Khalid bin Walid radliyallahu ‘anhuma.

Dalam perselisihan kecil itu Khalid sempat mengeluarkan kalimat yang kurang enak didengar. Lalu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda;

لَا تَـسُبُّوْا أَصْـحَابِي. فَوَالَّـذِى نَـفْسِي بِـيَدِهِ لَوْ أَنْـفَقَ أَحَـدَكُـمْ مِـثْلَ أُحُـدٍ ذَهَـبًا مَا بَلَـغَ مُـدَّ أَحَـدِهِـمْ وَلَا نَـصِيْـفَـهُ.

“Janganlah engkau mencela sahabat-sahabatku. Demi Dia yang jiwaku berada digenggaman tangan-Nya, jika salah seorang di antara kalian menyumbangkan emas sebesar gunung Uhud, itu tidak akan mampu menyamai (pahala) satu (pun) atau setengahnya sekalipun dari sedekah salah satu dari mereka”. Diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu.

Padahal jika melihat dari kedua orang yang berselisih ternyata keduanya adalah sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam. Tetapi Abdurrahman bin Auf lebih dahulu masuk Islam dibanding dengan Khalid bin Walid. Nah, dari sini saja (walaupun sama-sama sahabat tetapi berbeda rentang masuk Islamnya) ternyata Khalid bin Walid dilarang mencela Abdurrahman bin Auf.

Itu artinya bahwa Khalid bin Walid harus hormat kepada Abdurrahman bin Auf. Kenapa?

Sebab orang yang lebih dahulu masuk Islam itu jauh lebih banyak menerima ujian keimanannya dibandingkan dengan orang-orang yang masuk Islamnya setelah hijrah.

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu”. Qs. Al Hadiid 10.

Wallahu a’lam.

Oleh: Abu Ibrahim

leader banner alhidayat karpet

Sedang mencari karpet untuk masjid, kantor atau karpet permadani? Al Hidayat Karpet merupakan pusat jual karpet masjid, Permadani dan Karpet Kantor. Dapatkan penawaran harga karpet permadani, harga karpet kantor, dan harga karpet masjid terbaik hanya di Al Hidayat Karpet.

Call Now Button